tumbuh dewasa, pada praktiknya, sama sekali tidak menyenangkan.
saya ingat waktu jaman saya sd, di setiap tingkat selalu ada tugas mengarang "cita-citaku", yang kurang lebih sama seringnya dengan tugas dengan tema "pengalaman selama liburan" (selalu saya tulis dengan liburan di rumah nenek, meskipun sebenarnya saya habiskan dengan nonton kartun)
dan sejak kecil itu pula selalu muncul cita-cita klise untuk menjadi astronot, presiden, dokter, pemadam kebakaran, dan polisi.
tapi semuanya punah di tengah jalan.
tentu saja tidak mudah menjelaskan pada anak-anak bahwa ada profesi yang namanya akuntan, yang kerjanya menghitung deretan angka membosankan. atau pengacara, yang harus pandai berbohong pada dirinya sendiri dan khalayak ramai. atau seniman, yang menjual visualisasi khayalannya dengan harga tidak masuk akal.
entah siapa pionirnya, orang dewasa jaman dulu menemukan solusi praktis mahabrilian: jelaskan saja cita-cita itu cuma ada lima, dan semuanya heroik.
anak manapun akan percaya.
sampai perjalanan hidup mereka pelan-pelan menyadarkan bahwa hampir mustahil ada yang benar-benar bisa jadi astronot; bahwa profesi itu tidak gampang, dan tidak semenyenangkan yang biasanya terlihat dalam ilustrasi buku bahasa indonesia: jadi astronot tidak melulu berarti melayang dengan ceria pada gravitasi nol.
tidak ada yang mau repot-repot memberi tahu anak kecil tentang hal ini.
lima belas tahun yang lalu mereka ingin jadi presiden. hari ini mereka sedang duduk di depan layar monitor, memakai seragam pegawai bank, mendelik pada sekumpulan angka. negara mereka masih saja kacau; politiknya, pemerintahnya, sistemnya, birokrasinya, semuanya. tapi mereka sudah lama menyerah untuk ikut campur terlalu banyak.
terserahlah, yang penting dapur tetap mengepul. gaji pegawai bank juga sudah lumayan. tidak ada banyak pilihan, meskipun sudah jadi rahasia umum bahwa tidak ada yang suka pekerjaan itu.
ngga suka tapi tetap dilakukan. ngaco kan?
saya kangen masa kecil saya. waktu semua hal baru tampak begitu menakjubkan, bukannya menakutkan. waktu kebahagiaan saya bisa diukur dengan lamanya waktu saya duduk di depan layar tv hari minggu pagi. waktu mainan saya punya nyawa, nama, dan sifat sendiri-sendiri. waktu main sepeda sore hari keliling kompleks, menemukan jalan tikus baru bagai memetakan benua asing.
yang jarang disadari adalah waktu amat lihai berjalan diam-diam.
kayak saya yang tiba-tiba sudah jadi mahasiswa tingkat akhir.
sebentar lagi mungkin lulus, dan akan dimulailah siklus saya terjebak dalam situasi-pegawai-bank.
dan kalau sudah diujung jalan begini, melihat ke belakang rasanya seru.
mengingat dari dulu jalan hidup saya sudah diatur, pantas saja saya ga pernah merasa cemas.
tk 1 tahun, sd 6 tahun, smp 3, sma 3, kuliah 4.
total tujuh belas tahun lamanya jalan saya ke depan "dipagari".
agendanya jelas, supaya saya ngga tersesat kemana-mana;
targetnya pun jelas, biar naik ke tingkat selanjutnya.
tahun berikutnya;
jalan yang lainnya.
sudah terlalu lama saya diarahkan, saya lupa bagaimana rasanya berjalan sendirian.
menentukan sendiri semua pilihan.
rasanya mirip seperti disuruh menggambar, tapi temanya terserah kamu.
setiap kali datang suruhan begitu, biasanya kertas saya akan lama sekali baru diisi coretan.
mulai takut salah, banyak menghapus, lirik kanan kiri.
membandingkan hasil dengan teman lainnya.
jadi kemana saya pergi setelah ini, saya masih belum tahu
terlalu banyak pilihan malah jadi bingung. dan membandingkan laju hidup saya dengan orang lainpun rasanya ngga banyak membantu.
pasti akan lebih banyak bikin makan hati.
ironisnya dari dulu saya orangnya tipe kompetitor.
saya butuh setidaknya satu orang rival untuk menjadi limit atas dan limit bawah saya.
seberapa sukses saya tergantung pada limit tersebut.
saya baru akan berhenti membanding-bandingkan hidup saya kalau akhirnya saya menemukan orang baru.
jadi selama saya berada diatas limit, saya bisa hidup dengan ceria dan damai.
mungkin juga nanti saya ketemu orang-orang yang merasa hidupnya cukup dengan jadi 'pegawai bank' saja.
ngga mau yang aneh-aneh. ambisi hidup yang cuma selebar sendok teh.
tapi kalau dia bahagia saya bisa ngomong apa.
lagian tujuan hidup ini apa lagi sih
selain cari yang namanya bahagia.
tinggal kita tanya sama diri sendiri:
bahagia itu apa?
8 comments:
keep posting ceu, i enjoy ur blog :)
biaan, ini bagus banget. sukaaa! :)
bingung, kayanya komen saya bakal garing & terkesan copy paste dari komen tulisan yg 1 ke yg lain..
habis bagaimana ya,,,
beneran sukaaaa!!!!!!
*setuju sama ate ^^
ayo lagi2,,,
jd g sabar nunggu tulisan selanjutnya...
ceu. akhirnya ceu setelah sekian lama gak nulis.
terimakasih telah menampar saya.
waah makasih semuanya :)
iya vian, baguuus! *jempol :D
bagus, yanceu. aku baru bacaa. hehe.
aku pun mengalami seperti apa yang kamu tulis. setelah sekian tahun dipagari, diawasi, menjelang "kebebasan", aku malah takut. takut salah jalan.
hidup tuh unik ya.
keren :)
Post a Comment