Wednesday, October 14, 2009

tentang pilihan

saya sering berada di persimpangan jalan.
kalau konteksnya secara harfiah, biasanya saya tidak ragu untuk belok ke jalan manapun. karena toh saya ngga akan nyasar jauh. bisa tanya-tanya atau lihat peta nanti.
tapi kalau secara metafor, saya sering tersesat.
bukan sering. SELALU.

kalau ada dua pilihan apalagi lebih, saya cenderung berpikir keras luarbiasa.
mana yang baik bagi saya. mana yang tidak melukai orang lain. seberapa plusnya dibanding minus. bagaimana dampaknya ke depan. dan lain-lainnyalah. pusing.

lalu dari pengalaman, kegagalan, dan banyak sekali penyesalan, saya akhirnya belajar:
tidak ada yang namanya keputusan terbaik. jadi jalan manapun yang kamu ambil, akan berakhir di tempat yang sama. yang penting bukan hasil pilihannya, tapi keputusan untuk memilih.

dari awal rasa ragu muncul karena kedua jalan memiliki daya pikatnya masing-masing. keduanya terasa benar dan salah sekaligus. baik dan buruk pada saat yang bersamaan.
jadi yang manapun yang kamu ambil, duri di kedua jalan itu akan terasa sama sakitnya, langitnya akan terlihat sama biru, udara terasa sama sejuk, buahnya terasa sama asam, dan dengan serigala yang sama buasnya.

kurang lebih hanya liku jalannya saja yang berbeda.

dan kalau kamu pikir di jalan lain tidak ada serigalanya, tolong belajarlah: berjalan maju selalu lebih cepat daripada berbalik arah. selalu ingat ujung kedua jalan itu menuju tempat yang sama.
lagipula belum tentu serigalanya tidak mengikuti kamu. plus, ini artinya duri yang sama harus kamu injak sekali lagi (hore).

lalu kalau kamu terlalu takut untuk menghadapi serigala dan sedikit duri di kakimu, dan memutuskan untuk diam saja, cobalah mengerti: tempat tujuanmu tidak punya kaki. jangan pernah berharap dia yang akan datang padamu.
belum pernah ada perut yang kenyang tanpa melibatkan makanan yang ditelan.
belum pernah ada gedung yang berdiri tanpa melibatkan bata yang disusun.
dan tentu saja tidak akan pernah ada yang terjadi pada hidupmu kalau kamu diam saja.
aksi selalu menimbulkan reaksi.

dan misalnya kamu sudah tahu, sudah mengerti betul, atau sudah pernah mengalaminya, coba diam dan rasakan. karena kamu sendiri pasti tahu sekarang: tidak ada satupun yang perlu kamu keluhkan, karena harga yang pantas telah kamu bayar untuk mendapatkan apa yang kamu miliki sekarang.

tidak pernah kurang, dan tidak akan pernah lebih.

2 comments:

Fajrie said...

wow wow wow
like this!

Anonymous said...

suka ini..